GRAB NILAI PENGUATAN EKOSISTEM PERLUAS ADOPSI KENDARAAN LISTRIK
🕐 21/08/26 07:03 | IQPLUS
23225401
IQPlus, (21/8) - Grab Indonesia menilai penguatan ekosistem, mulai dari skema kepemilikan yang terjangkau hingga dukungan kebijakan dan infrastruktur, menjadi kunci untuk memperluas adopsi kendaraan listrik di sektor transportasi.
Director of Mobility and Logistics Grab Indonesia Tyas Widyastuti mengatakan adopsi kendaraan listrik masih menghadapi sejumlah tantangan, antara lain kekhawatiran pengguna terhadap jarak tempuh serta biaya kepemilikan kendaraan.
"Bottleneck-nya banyak. Pertama dari sisi psikologis driver, ada kekhawatiran jarak tempuh atau range anxiety," kata Tyas dalam sesi Transportation pada Industrial Summit 2026 di Jakarta, Kamis.
Menurut Tyas, pilihan kendaraan listrik saat ini semakin berkembang dibandingkan beberapa tahun sebelumnya, namun harga kendaraan masih menjadi salah satu pertimbangan bagi mitra pengemudi untuk beralih.
Karena itu, perusahaan menawarkan skema penyewaan serta rent-to-own atau sewa menuju kepemilikan guna mengurangi kebutuhan biaya awal yang harus dikeluarkan mitra.
"Karena mahal, model rental adalah solusinya. Untuk mobil, tantangannya adalah kepastian regulasi dan insentif dari pemerintah agar harganya lebih terjangkau," ujar dia.
Dalam materi paparannya, Grab mencatat lebih dari 28.000 kendaraan listrik telah beroperasi hingga Mei 2026, hampir dua kali lipat dibandingkan 2025 yang mencapai lebih dari 14.000 unit. Perusahaan menargetkan jumlah tersebut tumbuh lebih dari tiga kali dibandingkan basis 2025 yaitu sekitar 42.000 unit hingga akhir tahun.
Tyas menilai perluasan adopsi kendaraan listrik juga membutuhkan kolaborasi dengan pemerintah, produsen kendaraan dan kalangan akademik, termasuk dalam memberikan kepastian kebijakan, memperkuat infrastruktur serta mengembangkan inovasi yang sesuai kebutuhan pengguna.
Sementara itu, CEO MOSTRANS sekaligus dosen Sekolah Bisnis dan Manajemen Institut Teknologi Bandung (SBM ITB) Berty Argiyantari menilai tingkat kesiapan penggunaan kendaraan listrik pada sektor logistik berbeda antara distribusi dalam kota dan angkutan jarak jauh.
"Untuk dalam kota sudah mulai jalan. Tapi untuk long haul atau jarak jauh, kendalanya adalah infrastruktur charging station untuk kendaraan besar," kata Berty.
Menurut dia, truk listrik jarak jauh membutuhkan fasilitas pengisian daya yang sesuai dengan karakter kendaraan berat, termasuk lokasi berhenti yang mempertimbangkan keamanan kendaraan dan barang yang diangkut.
Berty mengatakan bobot dan kebutuhan ruang baterai juga menjadi pertimbangan dalam keekonomian angkutan barang karena pelaku logistik memperhitungkan kapasitas yang dapat dimanfaatkan untuk membawa muatan.
"Di logistik, kita hitung biaya per kubik. Kalau ruang kargo terpakai baterai, biaya akan naik dan konsumen mungkin keberatan," katanya. (end/ant)
All market data is a real-time snapshot, delayed at least 10 minute, except where indicated otherwise.
All market data presented in this website have been permitted by the Indonesian Stock Exchange.
All market data and analysis information provided "as is" for informational purposes only, not intended for trading purposes or advice. IQ Plus is not liable for any informational errors, incompleteness, or delays, or for any actions taken in reliance on information contained herein.
By accessing the IQPLUS.info site, you agree not to redistribute the information found therein. All quotes are in West Indonesia Standard Time (WIB).