IQPlus
🔍
Hangseng Index 23,651.87▼ -0.90%Kuala Lumpur Stock Exchange 1,602.27▲ 0.17%Kospi200 891.04▲ 3.76%Korea Composite 5,735.66▲ 3.29%Nikkei 225 Osaka 64,621.24▲ 0.85%Shanghai Composite 3,713.03▼ -0.60%Shenzhen Composite 2,225.34▼ -0.49%Thailand Stock Exchange 1,556.09▲ 0.07%MSCI Indonesia ETF 10.30▲ 7.18%Straits Times Singapore 5,437.99▲ 0.63%Austrian Traded Index 6,511.27▲ 0.90%Euro Stoxx 6,137.04▲ 0.25%CAC 40 Paris 7,921.68▲ 1.06%DAX Frankfurt 25,645.04▲ 1.35%FTSE 100 London 10,752.88▲ 0.19%Dow Jones Industrial Average 52,782.75▲ 0.55%S&P 500 7,763.55▲ 0.66%Nasdaq Composite 26,739.10▲ 1.19%Dow Jones Futures 52,998.00▲ 0.53%S&P Futures 7,773.00▲ 0.23%Nasdaq Futures 29,884.75▲ 0.71%New York Stock Exchange 17,188.46▼ -1.43%Tin 3M 51,060.00▼ -0.53%Zinc 3M 3,757.00▲ 0.86%Cocoa Nybot 5,839.00▲ 0.66%Light Crude Oil NYM 96.95▼ -0.89%Brent Crude 108.68▼ -0.10%Aluminum 3M 3,027.00▲ 0.83%Nickel 3M 16,290.00▲ 4.01%Copper 3M 14,370.50▼ -0.35%Loco London Gold 4,140.00▲ 0.53%Loco London Silver 57.73▲ 0.44%Emas Rupiah 2,399,957.25▲ 0.65%Hangseng Index 23,651.87▼ -0.90%Kuala Lumpur Stock Exchange 1,602.27▲ 0.17%Kospi200 891.04▲ 3.76%Korea Composite 5,735.66▲ 3.29%Nikkei 225 Osaka 64,621.24▲ 0.85%Shanghai Composite 3,713.03▼ -0.60%Shenzhen Composite 2,225.34▼ -0.49%Thailand Stock Exchange 1,556.09▲ 0.07%MSCI Indonesia ETF 10.30▲ 7.18%Straits Times Singapore 5,437.99▲ 0.63%Austrian Traded Index 6,511.27▲ 0.90%Euro Stoxx 6,137.04▲ 0.25%CAC 40 Paris 7,921.68▲ 1.06%DAX Frankfurt 25,645.04▲ 1.35%FTSE 100 London 10,752.88▲ 0.19%Dow Jones Industrial Average 52,782.75▲ 0.55%S&P 500 7,763.55▲ 0.66%Nasdaq Composite 26,739.10▲ 1.19%Dow Jones Futures 52,998.00▲ 0.53%S&P Futures 7,773.00▲ 0.23%Nasdaq Futures 29,884.75▲ 0.71%New York Stock Exchange 17,188.46▼ -1.43%Tin 3M 51,060.00▼ -0.53%Zinc 3M 3,757.00▲ 0.86%Cocoa Nybot 5,839.00▲ 0.66%Light Crude Oil NYM 96.95▼ -0.89%Brent Crude 108.68▼ -0.10%Aluminum 3M 3,027.00▲ 0.83%Nickel 3M 16,290.00▲ 4.01%Copper 3M 14,370.50▼ -0.35%Loco London Gold 4,140.00▲ 0.53%Loco London Silver 57.73▲ 0.44%Emas Rupiah 2,399,957.25▲ 0.65%
IHSG 5,328.360 ▲ +49.472 (+0.94%) | USD-IDR 18,032
← Kembali
Market News - INEW
PASAR SAHAM ASIA MELEMAH KAMIS KARENA TEKANAN PASAR OBLIGASI
🕐 08/10/26 08:05 | IQPLUS
28029124

IQPlus, (8/12) - Saham-saham Asia melemah pada hari Kamis karena tekanan di pasar obligasi pemerintah diperparah oleh laporan bahwa sejumlah perusahaan teknologi besar berupaya menggalang dana miliaran dolar melalui utang, bersaing langsung memperebutkan pendanaan yang terbatas.

Kenaikan harga minyak kembali menambah tekanan pada obligasi pemerintah AS (Treasuries), meskipun hasil lelang obligasi tenor 10 tahun AS yang kuat semalam membantu menurunkan imbal hasil (yield) dari level tertinggi dalam 24 tahun.

Sementara imbal hasil yang tinggi menopang nilai tukar dolar, euro justru merosot mendekati level terendah dalam 17 bulan akibat kekhawatiran terhadap kondisi keuangan Prancis yang merembet ke pasar utang Italia dan Yunani.

Kenaikan biaya pinjaman yang terus berlanjut membuat pasar saham berada dalam posisi defensif; indeks Nikkei Jepang turun 0,9%, dan indeks Korea Selatan turun 0,6%. Indeks MSCI untuk saham Asia-Pasifik di luar Jepang juga turun tipis 0,1%.

Di Wall Street, kontrak berjangka (futures) S&P 500 dan Nasdaq hampir tidak menunjukkan perubahan. Di Eropa, kontrak berjangka EUROSTOXX 50, DAX, dan FTSE semuanya naik tipis 0,1% setelah sempat turun pada hari Rabu.

The Wall Street Journal turut memberitakan laporan media bahwa SpaceX (SPCX.O), Broadcom (AVGO.O), dan Oracle (ORCL.N) sedang berupaya menggalang dana untuk membeli cip kecerdasan buatan (AI).

Broadcom mencari pendanaan sebesar US$50 miliar, sementara SpaceX berencana menerbitkan utang peringkat layak investasi (investment-grade) senilai US$30 miliar dan mencari pinjaman sebesar US$10 miliar untuk membeli cip dari Nvidia (NVDA.O), yang merupakan salah satu pemegang saham utama SpaceX. Berita tersebut memicu lonjakan biaya asuransi gagal bayar kredit (credit default insurance) SpaceX ke rekor tertinggi, sementara harga saham dan obligasinya mengalami penurunan.

Nigel Green, CEO deVere Group, memperingatkan adanya siklus berbahaya di mana Nvidia mendanai justru para pelanggan yang membeli produknya; hal ini menempatkan investor global dalam risiko jika keuntungan yang diharapkan tidak terwujud.

"Pembangunan infrastruktur AI awalnya didanai oleh kas," ujar Green. "Kini, hal itu semakin bergantung pada kredit, dan kredit mengubah profil risiko secara keseluruhan."

"Utang harus dilunasi sesuai jadwal, terlepas dari apakah pendapatan benar-benar masuk atau tidak," tambahnya. "Dan utang ini pada akhirnya masuk ke dalam dana obligasi serta dana pensiun para penabung di seluruh dunia."

OBLIGASI NEGARA VS UTANG KORPORASI
Meski demikian, fakta bahwa sebagian besar dana ini akan dibelanjakan untuk peralatan AI bisa berdampak positif bagi laba di sektor semikonduktor dan memori. Pada hari Kamis, Samsung Electronics (005930.KS) memproyeksikan lonjakan laba operasional sebesar 783% pada kuartal ketiga menjadi 107,4 triliun won (US$80,17 miliar), meskipun harga sahamnya turun tipis 0,3%.

Akumulasi utang korporasi ini terjadi di saat pasar obligasi negara sedang menghadapi ujian berat akibat kekhawatiran inflasi, defisit anggaran yang terus melebar, dan kenaikan suku bunga acuan.

Risalah rapat terakhir Federal Reserve yang dirilis pada hari Rabu menunjukkan bahwa "sebagian besar" anggota menganggap kenaikan suku bunga lanjutan mungkin terjadi menjelang akhir tahun, meskipun mereka akan menyikapi setiap rapat dengan pikiran terbuka.

Pasar memperkirakan hanya ada peluang 19% bagi The Fed untuk kembali menaikkan suku bunga bulan ini, namun memperhitungkan peluang 80% untuk kenaikan pada bulan Desember.

"Kami memperkirakan adanya kenaikan suku bunga kedua oleh The Fed pada bulan Desember, meskipun kami melihat adanya kemungkinan besar The Fed pada akhirnya akan menyimpulkan bahwa pengetatan lebih lanjut tidak diperlukan," tulis para analis Goldman Sachs dalam sebuah catatan. (end/Reuters)
📰 BERITA TERKAIT
EKOM: BI : KINERJA NERACA PEMBAYARAN INDONESIA TERUS DIPERKUAT
21/10/26 16:56
EKOM: MENKO PEREKONOMIAN SEBUT AI MESIN PERTUMBUHAN EKONOMI BARU
21/10/26 16:51
EKOM: BI CATAT KREDIT PERBANKAN PADA SEPTEMBER 2026 CAPAI 13,26%
21/10/26 16:39
EKOM: MENKO: PENILAIAN PASAR MODAL RI TAK HANYA BERGANTUNG KE SATU LEMBAGA
21/10/26 16:31
EKOM: IHSG SESI II DITUTUP MENGUAT 49 POIN DI LEVEL 5.328
21/10/26 16:23
EKOM: BI : VOLUME TRANSAKSI INTERNET PAYMENTS TUMBUH 14,26% DI TRIWULAN III 2026
21/10/26 16:12
COMD: HARGA TBS KELAPA SAWIT PETANI RIAU NAIK JADI RP3.679,40 PER KG
21/10/26 16:05
EKOM: KADIN: UU PELINDUNGAN KETENAGAKERJAAN JAGA PRODUKTIVITAS-KESEJAHTERAAN
21/10/26 15:50
🏢 LEMBAGA TERKAIT
IDX ID Clear (KPEI) KSEI OJK

Disclaimer :

All market data is a real-time snapshot, delayed at least 10 minute, except where indicated otherwise. All market data presented in this website have been permitted by the Indonesian Stock Exchange. All market data and analysis information provided "as is" for informational purposes only, not intended for trading purposes or advice. IQ Plus is not liable for any informational errors, incompleteness, or delays, or for any actions taken in reliance on information contained herein. By accessing the IQPLUS.info site, you agree not to redistribute the information found therein. All quotes are in West Indonesia Standard Time (WIB).

ADDRESS :

Komplek Gading Bukit Indah, Blok H24,
Kelapa Gading, Jakarta Utara 14240

Info Produk

Marketing

Technical Support

SUPPORT 1 SUPPORT 2 SUPPORT 3

Phone : 021-4513821

Email : marketing@iqplus.info

HomeHome NewsNews Top20Top 20 MarketSummary InfoInfo
Memuat Top 20…