IQPlus
🔍
Hangseng Index 23,093.37▲ 0.69%Kuala Lumpur Stock Exchange 1,611.56▲ 0.21%Kospi200 862.77▲ 0.55%Korea Composite 5,550.30▲ 0.30%Nikkei 225 Osaka 62,693.16▼ -0.34%Shanghai Composite 3,690.48▲ 0.89%Shenzhen Composite 2,212.99▲ 2.44%Thailand Stock Exchange 1,562.67▲ 0.42%MSCI Indonesia ETF 10.53▲ 2.23%Straits Times Singapore 5,422.16▲ 0.13%Austrian Traded Index 6,565.70▲ 1.75%Euro Stoxx 6,207.52▲ 1.40%CAC 40 Paris 7,782.82▼ -0.36%DAX Frankfurt 25,181.65▼ -0.75%FTSE 100 London 10,690.36▼ -0.32%Dow Jones Industrial Average 52,215.16▼ -1.23%S&P 500 7,623.62▼ -0.52%Nasdaq Composite 25,955.34▼ -0.21%Dow Jones Futures 52,451.00▼ -1.16%S&P Futures 7,800.250.00%Nasdaq Futures 30,023.75▲ 0.06%New York Stock Exchange 17,188.46▼ -1.43%Tin 3M 50,765.00▲ 1.35%Zinc 3M 3,746.50▲ 2.07%Cocoa Nybot 5,560.00▼ -0.39%Light Crude Oil NYM 103.44▲ 3.99%Brent Crude 117.38▲ 3.72%Aluminum 3M 3,040.50▲ 1.03%Nickel 3M 15,865.00▼ -1.58%Copper 3M 14,298.00▼ -1.09%Loco London Gold 3,995.40▼ -0.69%Loco London Silver 53.83▼ -1.37%Emas Rupiah 2,324,170.25▼ -0.55%Hangseng Index 23,093.37▲ 0.69%Kuala Lumpur Stock Exchange 1,611.56▲ 0.21%Kospi200 862.77▲ 0.55%Korea Composite 5,550.30▲ 0.30%Nikkei 225 Osaka 62,693.16▼ -0.34%Shanghai Composite 3,690.48▲ 0.89%Shenzhen Composite 2,212.99▲ 2.44%Thailand Stock Exchange 1,562.67▲ 0.42%MSCI Indonesia ETF 10.53▲ 2.23%Straits Times Singapore 5,422.16▲ 0.13%Austrian Traded Index 6,565.70▲ 1.75%Euro Stoxx 6,207.52▲ 1.40%CAC 40 Paris 7,782.82▼ -0.36%DAX Frankfurt 25,181.65▼ -0.75%FTSE 100 London 10,690.36▼ -0.32%Dow Jones Industrial Average 52,215.16▼ -1.23%S&P 500 7,623.62▼ -0.52%Nasdaq Composite 25,955.34▼ -0.21%Dow Jones Futures 52,451.00▼ -1.16%S&P Futures 7,800.250.00%Nasdaq Futures 30,023.75▲ 0.06%New York Stock Exchange 17,188.46▼ -1.43%Tin 3M 50,765.00▲ 1.35%Zinc 3M 3,746.50▲ 2.07%Cocoa Nybot 5,560.00▼ -0.39%Light Crude Oil NYM 103.44▲ 3.99%Brent Crude 117.38▲ 3.72%Aluminum 3M 3,040.50▲ 1.03%Nickel 3M 15,865.00▼ -1.58%Copper 3M 14,298.00▼ -1.09%Loco London Gold 3,995.40▼ -0.69%Loco London Silver 53.83▼ -1.37%Emas Rupiah 2,324,170.25▼ -0.55%
IHSG 5,439.258 ▲ +51.353 (+0.95%) | USD-IDR 18,091
← Kembali
Market News - EKOM
BI FOKUS JAGA KEPERCAYAAN SEIRING PESATNYA PEMBAYARAN DIGITAL
🕐 28/09/26 15:21 | IQPLUS
27055297

IQPlus, (28/9) - Bank Indonesia (BI) menyatakan saat ini fokus untuk menjaga kepercayaan (trust) masyarakat seiring dengan pesatnya perkembangan sistem pembayaran digital, sebagaimana tercermin dalam Blueprint Sistem Pembayaran Indonesia (BSPI) 2030.

"BSPI 2030 adalah fase berikutnya dari BSPI 2025. Dalam BSPI 2020 ke 2025, kami berpikir bagaimana fokus ke inklusi. Di tahun 2025 sampai 2030, kami berpikir, 'Ayo, kita jagain trust'. Dengan apa? Dengan inisiatif-inisiatif kita yang related dengan integritas," kata Direktur-Kepala Grup Kebijakan dan Strategi Inovasi dan Digitalisasi Data BI Agung Bayu Purwoko dalam Forum Group Discussion (FGD) di Jakarta, Senin.

Ketika fokus sistem pembayaran sebelumnya diarahkan pada inklusi, Agung mengatakan kolaborasi dengan berbagai otoritas dan pelaku industri telah berhasil dijalin.

Menurutnya, pendekatan serupa juga diperlukan dalam upaya menjaga kepercayaan sekaligus menangani penipuan online di tengah semakin tingginya digitalisasi sistem pembayaran.

Ia meyakini bahwa upaya menjaga kepercayaan bukan sesuatu yang mustahil untuk dioptimalkan. Terlebih, ujar Agung, BI melalui pada BSPI 2030 juga mendorong peningkatan kapabilitas penyedia jasa sistem pembayaran, termasuk kemampuan dalam mendeteksi penipuan.

"Kalau dulu bagaimana kita menargetkan peningkatan merchant QRIS, transaksi dan sebagainya, ke depan kita juga ingin bagaimana mereka meningkatkan fraud detection-nya," kata Agung.

Ia mengingatkan peningkatan kapabilitas tersebut juga perlu diikuti dengan kesadaran manajemen penyedia jasa sistem pembayaran untuk menjaga ekosistem yang telah memiliki tingkat digitalisasi tinggi.

"Jadi manajemen juga harus sadar bahwa ekosistem yang sudah terjaga, yang sudah tinggi digitalisasinya, dan tentunya kita sepakat dengan trust tadi, kita sudah punya beberapa mekanisme dan akan diperkuat dengan dukungan yang sedang kita bangun," kata dia.

Agung menjelaskan bahwa pengembangan sistem pembayaran sejak 2019 pada dasarnya ditujukan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi melalui transaksi yang cepat, mudah, murah, aman, dan andal.

Pada awal pengembangan, BI melihat jumlah merchant QRIS di Indonesia masih kurang dari 2 juta, sementara pemain dalam sistem pembayaran juga masih terbatas pada sejumlah bank.

Karena itu, salah satu fokus awal BI adalah memperluas jumlah merchant. Adapun saat ini, jumlah merchant QRIS telah berkembang dengan pesat menyentuh hampir 50 juta.

Agung menambahkan, pengembangan QRIS, BI-FAST, dan Standar Nasional Open API Pembayaran (SNAP) juga diarahkan untuk mendorong interoperabilitas antarpelaku sistem pembayaran. Menurutnya, apabila setiap pemain hanya melayani nasabahnya sendiri, transaksi akan terbatas pada ekosistem masing-masing.

"Karena waktu itu kalau masing-masing pemain serve nasabahnya sendiri, transaksinya ya segitu-gitu saja. Padahal Indonesia ini luasnya sedemikian, berarti harus gotong-royong," kata dia.

Seiring dengan semakin terintegrasinya sistem pembayaran, Agung juga tidak memungkiri munculnya tantangan baru terutama terkait identitas dan risiko penipuan.

Ia menyebutkan bahwa pada 2020, pangsa transaksi off-us atau transaksi antarpenyedia jasa pembayaran masih sekitar 22 persen. Seiring dengan perkembangan QRIS, transaksi off-us meningkat signifikan menjadi sekitar 40 persen serta diproyeksikan terus meningkat hingga 2030.

Oleh sebab itu, Agung menekankan semakin banyaknya transaksi yang berlangsung lintas ekosistem tersebut membuat penguatan integritas dan kolaborasi dalam menangani penipuan menjadi semakin penting. (end/ant)
📰 BERITA TERKAIT
EKOM: ANTISIPASI INFLASI JELANG NATARU, PEMERINTAH PERKUAT RANTAI PASOK PANGAN
23/10/26 17:04
EKOM: BAHLIL LAPOR PRABOWO PENERIMAAN SEKTOR ENERGI DAN MINERBA MENINGKAT
23/10/26 16:58
COMD: NILAI TUKAR RUPIAH MELEMAH TERHADAP DOLAR AS
23/10/26 16:53
EKOM: AIRLANGGA SEBUT ATURAN FOREIGN BRIBERY JADI SYARAT AKSESI OECD
23/10/26 16:41
EKOM: IHSG SESI II DITUTUP MENGUAT 51 POIN DI LEVEL 5.439
23/10/26 16:29
EKOM: MENKO BAHLIL EVALUASI EKSPOR GAS UNTUK BANGUN INDUSTRI PETROKIMIA
23/10/26 16:08
EKOM: IIF RAIH PENGHARGAAN INOVASI OPERASIONAL DAN ESG TINGKAT ASIA
23/10/26 16:04
EKOM: MENTERI PKP TEGASKAN KOMITMEN PERKUAT TATA KELOLA PENGADAAN BARANG/JASA
23/10/26 16:02
🏢 LEMBAGA TERKAIT
IDX ID Clear (KPEI) KSEI OJK

Disclaimer :

All market data is a real-time snapshot, delayed at least 10 minute, except where indicated otherwise. All market data presented in this website have been permitted by the Indonesian Stock Exchange. All market data and analysis information provided "as is" for informational purposes only, not intended for trading purposes or advice. IQ Plus is not liable for any informational errors, incompleteness, or delays, or for any actions taken in reliance on information contained herein. By accessing the IQPLUS.info site, you agree not to redistribute the information found therein. All quotes are in West Indonesia Standard Time (WIB).

ADDRESS :

Komplek Gading Bukit Indah, Blok H24,
Kelapa Gading, Jakarta Utara 14240

Info Produk

Marketing

Technical Support

SUPPORT 1 SUPPORT 2 SUPPORT 3

Phone : 021-4513821

Email : marketing@iqplus.info

HomeHome NewsNews Top20Top 20 MarketSummary InfoInfo
Memuat Top 20…