IQPlus
🔍
Hangseng Index 22,953.51▼ -2.95%Kuala Lumpur Stock Exchange 1,605.33▲ 0.19%Kospi200 859.03▼ -3.59%Korea Composite 5,539.82▼ -3.41%Nikkei 225 Osaka 63,147.92▼ -2.28%Shanghai Composite 3,678.19▼ -0.94%Shenzhen Composite 2,189.34▼ -1.62%Thailand Stock Exchange 1,561.47▲ 0.35%MSCI Indonesia ETF 10.53▲ 2.23%Straits Times Singapore 5,422.80▼ -0.28%Austrian Traded Index 6,565.70▲ 1.75%Euro Stoxx 6,207.52▲ 1.40%CAC 40 Paris 7,921.68▲ 1.05%DAX Frankfurt 25,645.04▲ 1.33%FTSE 100 London 10,752.88▲ 0.18%Dow Jones Industrial Average 52,856.09▲ 0.69%S&P 500 7,757.22▲ 0.58%Nasdaq Composite 26,702.86▲ 1.05%Dow Jones Futures 52,868.00▼ -0.36%S&P Futures 7,800.250.00%Nasdaq Futures 30,023.75▲ 0.06%New York Stock Exchange 17,188.46▼ -1.43%Tin 3M 50,505.00▼ -1.45%Zinc 3M 3,727.50▼ -0.75%Cocoa Nybot 5,839.00▲ 0.66%Light Crude Oil NYM 99.24▲ 2.15%Brent Crude 111.45▲ 2.42%Aluminum 3M 3,020.00▼ -0.72%Nickel 3M 16,120.00▼ -0.70%Copper 3M 14,225.00▼ -0.91%Loco London Gold 4,094.50▼ -1.10%Loco London Silver 56.46▼ -2.53%Emas Rupiah 2,374,248.25▼ -1.09%Hangseng Index 22,953.51▼ -2.95%Kuala Lumpur Stock Exchange 1,605.33▲ 0.19%Kospi200 859.03▼ -3.59%Korea Composite 5,539.82▼ -3.41%Nikkei 225 Osaka 63,147.92▼ -2.28%Shanghai Composite 3,678.19▼ -0.94%Shenzhen Composite 2,189.34▼ -1.62%Thailand Stock Exchange 1,561.47▲ 0.35%MSCI Indonesia ETF 10.53▲ 2.23%Straits Times Singapore 5,422.80▼ -0.28%Austrian Traded Index 6,565.70▲ 1.75%Euro Stoxx 6,207.52▲ 1.40%CAC 40 Paris 7,921.68▲ 1.05%DAX Frankfurt 25,645.04▲ 1.33%FTSE 100 London 10,752.88▲ 0.18%Dow Jones Industrial Average 52,856.09▲ 0.69%S&P 500 7,757.22▲ 0.58%Nasdaq Composite 26,702.86▲ 1.05%Dow Jones Futures 52,868.00▼ -0.36%S&P Futures 7,800.250.00%Nasdaq Futures 30,023.75▲ 0.06%New York Stock Exchange 17,188.46▼ -1.43%Tin 3M 50,505.00▼ -1.45%Zinc 3M 3,727.50▼ -0.75%Cocoa Nybot 5,839.00▲ 0.66%Light Crude Oil NYM 99.24▲ 2.15%Brent Crude 111.45▲ 2.42%Aluminum 3M 3,020.00▼ -0.72%Nickel 3M 16,120.00▼ -0.70%Copper 3M 14,225.00▼ -0.91%Loco London Gold 4,094.50▼ -1.10%Loco London Silver 56.46▼ -2.53%Emas Rupiah 2,374,248.25▼ -1.09%
IHSG 5,418.998 ▲ +90.638 (+1.70%) | USD-IDR 18,034
← Kembali
Market News - EKOM
PEMERNTAH INTERVENSI HARGA PANGAN LEWAT GPM NASIONAL DI 38 PROVINSI
🕐 22/10/26 12:17 | IQPLUS
29444242

IQPlus, (22/10) - Pemerintah memperkuat intervensi stabilisasi pangan melalui Gerakan Pangan Murah (GPM) serentak secara nasional di 38 provinsi dan 514 kabupaten/kota untuk menjaga harga, pasokan, serta akses masyarakat terhadap pangan terjangkau.

"Harapan kita, ke depan daya beli masyarakat semakin meningkat sehingga kebutuhan pangan pokok dapat terpenuhi dengan lebih baik," kata Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Saleh Mustafa dalam GPM Serentak yang digelar Badan Pangan Nasional (Bapanas) di Jakarta, Kamis.

Saleh mendorong penguatan intervensi agar pemerintah dapat merespons lebih cepat ketika terjadi gejolak harga pangan di daerah.

Ia juga mengapresiasi pelaksanaan GPM yang dinilai membantu masyarakat memenuhi kebutuhan pangan. Namun, ia menegaskan perlunya upaya berkelanjutan untuk meningkatkan daya beli masyarakat, termasuk melalui optimalisasi bantuan pangan yang direncanakan Presiden Prabowo Subianto.

Ia berharap berbagai intervensi pemerintah dapat membantu meningkatkan kemampuan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari.

Menurut dia, pelaksanaan GPM perlu terus ditingkatkan dan dievaluasi untuk mengukur dampaknya terhadap daya beli masyarakat sebagai konsumen.

Selain menyediakan pangan dengan harga terjangkau, pemerintah memperkuat dukungan sarana untuk pengujian keamanan pangan dan penanganan gejolak harga.

Dalam kegiatan tersebut, pemerintah menyerahkan bantuan kendaraan untuk mendukung pengujian keamanan komoditas pangan, termasuk memastikan cabai yang dipasarkan kepada masyarakat aman dikonsumsi dan tidak mengandung bahan berbahaya.

Pemerintah juga menghadirkan kendaraan pendukung program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) dari Badan Pangan Nasional (Bapanas).

Dukungan sarana itu diharapkan membantu pemantauan kondisi pangan dan mempercepat langkah intervensi di wilayah yang mengalami ketidakstabilan harga.

"Tujuannya agar ketika terjadi gejolak atau harga pangan tidak stabil di suatu wilayah, kita bisa melakukan intervensi secara cepat," tutur Saleh.

Dengan dukungan fasilitas yang tersedia, pemerintah dapat memantau kondisi pangan dan mengambil langkah yang diperlukan. (end)
📰 BERITA TERKAIT
EKOM: IHSG SESI I DITUTUP MENGUAT 90 POIN DI LEVEL 5.418
22/10/26 12:10
EKOM: PERTEMUAN MENTERI KEUANGAN APEC DITUTUP DENGAN PENCAPAIAN PRAKTIS
22/10/26 12:03
EKOM: PEMERINTAH AKTIFKAN RUMAH OKSIGEN UNTUK WARGA TERDAMPAK KARHUTLA
22/10/26 12:01
EKOM: ASDP PASTIKAN LAYANAN EXPRESS 1 KEMBALI NORMAL
22/10/26 11:48
COMD: HARGA EMAS TURUN LEBIH DARI 1% KAMIS SIANG
22/10/26 11:38
EKOM: PEMERINTAH CATAT INVESTASI KEK Rp46 TRILIUN HINGGA SEPTEMBER 2026
22/10/26 11:31
COMD: BANK INDONESIA PERKUAT KEBIJAKAN UNTUK JAGA STABILITAS RUPIAH
22/10/26 11:17
EKOM: PRESIDEN PRABOWO TEGASKAN PENTINGNYA KEBERANIAN MENJAGA KEPENTINGAN NASIONAL
22/10/26 11:14
🏢 LEMBAGA TERKAIT
IDX ID Clear (KPEI) KSEI OJK

Disclaimer :

All market data is a real-time snapshot, delayed at least 10 minute, except where indicated otherwise. All market data presented in this website have been permitted by the Indonesian Stock Exchange. All market data and analysis information provided "as is" for informational purposes only, not intended for trading purposes or advice. IQ Plus is not liable for any informational errors, incompleteness, or delays, or for any actions taken in reliance on information contained herein. By accessing the IQPLUS.info site, you agree not to redistribute the information found therein. All quotes are in West Indonesia Standard Time (WIB).

ADDRESS :

Komplek Gading Bukit Indah, Blok H24,
Kelapa Gading, Jakarta Utara 14240

Info Produk

Marketing

Technical Support

SUPPORT 1 SUPPORT 2 SUPPORT 3

Phone : 021-4513821

Email : marketing@iqplus.info

HomeHome NewsNews Top20Top 20 MarketSummary InfoInfo
Memuat Top 20…