APINDO DORONG INDUSTRI FOKUS PADA "DEBOTLENECKING" GUNA CEGAH PHK
🕐 21/08/26 14:59 | IQPLUS
23253952
IQPlus, (21/8) - Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Kamdani mendorong industri untuk fokus pada penyelesaian berbagai hambatan atau debottlenecking di hulu guna mencegah terjadinya lebih banyak pemutusan hubungan kerja (PHK).
Hal itu ia sampaikan menanggapi data Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker) yang mencatat jumlah PHK pada periode Januari-Juli 2026 mencapai 43.805 orang.
"Kami sekarang sudah enggak mau lihat cuma data, karena kami melihat bagaimana solusi mengatasi dan mengantisipasi. Jangan sampai PHK itu terjadi. Saya sudah sampaikan berkali-kali, PHK itu cuma di hilirnya, isunya banyak di hulunya," ujar Shinta saat ditemui di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian di Jakarta, Jumat.
Maka dari itu, upaya debottlenecking menjadi penting karena berbagai persoalan di hulu industri yang menjadi penyebab utama PHK dapat diselesaikan.
"Makanya debottlenecking ini kita fokus banget, karena banyak PHK itu terjadi karena hulunya tidak bisa diselesaikan," kata Shinta.
"Jadi saya enggak mau lihat hanya angka. Kita harus melihat bagaimana solusinya, jangan sampai PHK itu terjadi. PHK itu selalu adalah opsi terakhir. Enggak ada yang mau PHK kalau bisa," tambahnya.
Terkait sektor yang paling terdampak, Shinta menyebut industri padat karya, termasuk tekstil dan garmen masih menjadi salah satu sektor yang tengah menghadapi persoalan.
Saat ini industri padat karya menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari ketersediaan bahan baku hingga pasokan gas industri.
Selain itu, ia menambahkan, persoalan bahan baku dan gas industri perlu segera diselesaikan karena bisa memengaruhi keberlangsungan operasional industri yang pada akhirnya berdampak terhadap kondisi tenaga kerja.
"Jadi banyak sekali kalau industri padat karya itu kan berkaitan dengan ketersediaan bahan baku, kaitannya kepada gas industri, ini kan semua (industri) besar. Jadi tentunya akan sangat berdampak kalau ini tidak diselesaikan," tutupnya. (end/ant)
All market data is a real-time snapshot, delayed at least 10 minute, except where indicated otherwise.
All market data presented in this website have been permitted by the Indonesian Stock Exchange.
All market data and analysis information provided "as is" for informational purposes only, not intended for trading purposes or advice. IQ Plus is not liable for any informational errors, incompleteness, or delays, or for any actions taken in reliance on information contained herein.
By accessing the IQPLUS.info site, you agree not to redistribute the information found therein. All quotes are in West Indonesia Standard Time (WIB).